Agama adalah Candu Masyarakat


Penerjemah: Moch Aldy MA

Karl Marx adalah seorang filsuf Jerman yang mencoba mengkaji agama dengan objektif, dari perspektif ilmiah. Analisis dan kritik Marx terhadap agama "Die Religion ... ist das Opium des Volkesis/Agama adalah candu masyarakat"—mungkin salah satu yang paling terkenal dan paling banyak dikutip oleh teis dan ateis. Sayangnya, sebagian besar dari mereka yang mengutip tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud Marx, mungkin karena pemahaman yang tidak lengkap mengenai teori umum Marx tentang ekonomi dan masyarakat.

Pandangan Naturalistik tentang Agama

Banyak orang di berbagai bidang ingin sekali menjelaskan tentang agama—asal-usulnya, perkembangannya, dan bahkan pengaruh kuatnya dalam masyarakat modern. Sebelum abad ke-18, sebagian besar jawaban dibingkai semata-mata dalam istilah teologis dan agama, dengan asumsi kebenaran pewahyuan Kristen dan kelanjutannya dari titik tersebut. Namun sepanjang abad ke-18 dan ke-19, pendekatan yang lebih “naturalistik” mulai berkembang.

Marx sebenarnya sangat sedikit berbicara tentang agama secara langsung; dalam semua tulisannya, dia hampir tidak pernah membahas agama secara sistematis, meskipun dia sering bersentuhan dengan agama dalam buku-buku, pidato-pidato, dan pamflet-pamflet. Alasannya adalah bahwa kritiknya terhadap agama hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan teorinya tentang masyarakat—sehingga, memahami kritiknya terhadap agama memerlukan beberapa pemahaman tentang kritiknya terhadap masyarakat secara umum.

Menurut Marx, agama adalah ekspresi dari realitas material dan ketidakadilan ekonomi. Dengan demikian, masalah dalam agama pada akhirnya menjadi masalah dalam masyarakat. Agama bukanlah penyakit, tetapi hanya gejala (tanda dari penyakit). Agama digunakan oleh penindas untuk membuat masyararakat merasa lebih baik atas kesusahan yang mereka alami karena menjadi miskin dan dieksploitasi. Inilah asal mula anggapannya bahwa agama adalah “candu masyarakat”—tetapi seperti yang akan kita lihat, pemikirannya jauh lebih kompleks daripada yang biasa digambarkan.

Latar Belakang

Untuk memahami kritik Marx terhadap agama dan teori ekonomi, penting untuk memahami sedikit tentang dari mana dia berasal, latar belakang filosofisnya, dan bagaimana dia sampai pada beberapa keyakinannya tentang budaya dan masyarakat.

Teori Ekonomi

Bagi Marx, ekonomi adalah dasar dari semua kehidupan dan sejarah manusia, sumber yang menghasilkan pembagian kerja, perjuangan kelas, dan semua institusi sosial yang diduga mempertahankan status quo. Institusi-institusi sosial itu adalah suprastruktur yang dibangun di atas dasar ekonomi, sepenuhnya bergantung pada realitas material dan ekonomi. Semua institusi yang menonjol dalam kehidupan kita sehari-hari—pernikahan, tempat ibadah, pemerintahan, seni, dll.—hanya bisa benar-benar dipahami jika ditinjau dalam relasinya dengan kekuatan ekonomi.

Analisis Agama

Menurut Marx, agama adalah salah satu institusi sosial yang bergantung pada realitas material dan ekonomi dalam suatu masyarakat tertentu. Ia tidak memiliki sejarah yang berdikari, tetapi justru merupakan makhluk dari kekuatan-kekuatan produktif. Seperti yang ditulis Marx, “Dunia religius hanyalah refleksi dari dunia nyata.”

Semenarik dan seedukatif apapun analisis dan kritik Marx, bukan berarti analisis dan kritik itu bebas dari masalah—sejarah dan ekonomi. Karenanya, tidaklah bijak untuk menerima gagasan-gagasan Marx secara tidak kritis. Meskipun dia pasti memiliki beberapa hal penting untuk dikatakan tentang sifat-sifat dasar agama, Marx tidak dapat diterima sebagai solusi terakhir terkait masalah ini.

Biografi

Karl Marx lahir pada tanggal 5 Mei 1818, di kota Trier, Jerman. Keluarganya adalah Yahudi, tetapi kemudian menjadi Protestan pada tahun 1824 untuk menghindari persekusi dari undang-undang anti-Semit. Untuk alasan ini, Marx muda menolak agama sejak dini dan menyatakan dengan sangat jelas bahwa dia adalah seorang ateis.

Marx belajar filsafat di Bonn dan kemudian di Berlin, di mana ia berada di bawah pengaruh Georg Wilhelm Friedrich von Hegel. Filsafat Hegel memiliki pengaruh besar atas pemikiran dan teori-teori Marx kedepannya. Hegel adalah seorang filsuf yang rumit, tetapi adalah mungkin untuk menggambar garis besar yang kasar atas pemikirannya agar kita mampu memahaminya.

Hegel adalah bapak dialektika idealis, dan seseorang yang dikenal sebagai “idealis”—menurutnya, hal-hal mental (ide, konsep) adalah fundamental bagi dunia, bukan materi. Hal-hal material hanyalah ekspresi dari ide-ide—khususnya, dari “Roh Universal” atau “Ide Absolut” yang mendasarinya.

Hegelian Muda

Marx bergabung dengan “Hegelian Muda” (bersama Bruno Bauer dan lainnya) yang tidak hanya sebagai pengikut, tetapi juga sebagai kritikus Hegel. Meskipun mereka setuju bahwa pemisahan antara pikiran dan materi adalah masalah filosofis yang fundamental, mereka berpendapat sebaliknya, bahwa gagasan sebenarnya hanyalah ekspresi dari kebutuhan akan material. Apa yang secara fundamental nyata tentang dunia adalah kekuatan material, bukan ide dan konsep—kekuatan material ini adalah jangkar dasar, yang di kemudian hari menjadi titik pangkal semua gagasan Marx.

Dua gagasan penting yang dikembangkan oleh Marx perlu disebutkan di sini: Pertama, bahwa realitas ekonomi merupakan faktor penentu bagi semua perilaku manusia; dan kedua, bahwa semua sejarah manusia adalah perjuangan kelas antara mereka yang memiliki alat-alat produksi dan mereka yang tidak memilikinya—sehingga harus bekerja terus menerus demi bertahan hidup. Ini adalah konteks di mana semua institusi sosial manusia berkembang, termasuk agama.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Marx pindah ke Bonn, dan berharap menjadi profesor, tetapi karena adanya konflik kefilsafatan dengan Hegel, Ludwig Feuerbach dipecat pada tahun 1832 dan tidak diizinkan untuk kembali ke universitas pada tahun 1836. Marx melupakan idenya untuk melanjutkan karir akademiknya. Pada tahun 1841 pemerintah juga melarang Profesor muda Bruno Bauer untuk mengajar di Bonn. Pada awal tahun 1842, kaum radikal di Rhineland (Cologne), yang berafiliasi dengan kaum Hegelian Kiri, mendirikan surat kabar yang menentang pemerintah Prusia, yang disebut Rheinische Zeitung. Marx dan Bruno Bauer diundang untuk menjadi kontributor utama, dan pada Oktober 1842 Marx menjadi Pemimpin Redaksi Rheinische Zeitung dan pindah dari Bonn ke Cologne. Kelak, jurnalistik menjadi pekerjaan utama Marx untuk sebagian besar hidupnya.

Bertemu Friedrich Engels

Setelah kegagalan berbagai gerakan revolusioner di kontinen (Eropa terkecuali Inggris) itu, Marx terpaksa pergi ke London pada tahun 1849. Perlu dicatat bahwa Marx tidak bekerja sendiri di sebagian besar hidupnya—ia mendapat bantuan dari Friedrich Engels yang telah, secara mandiri, mengembangkan teori Determinisme Ekonomi yang sangat mirip dengan milik Marx. Keduanya memiliki pemikiran yang sama dan bekerja sama dengan sangat baik—Marx adalah filsuf yang lebih baik sementara Engels adalah komunikator yang lebih baik.

Meskipun gagasan-gagasan itu kemudian berdiri atas nama “Marxisme”, harus selalu diingat bahwa Marx tidak menggagasnya seorang diri. Engels juga penting bagi Marx dalam hal finansial—kemiskinan sangat membebani Marx dan keluarganya; jika bukan karena bantuan keuangan Engels yang terus-menerus dan tanpa pamrih, Marx tidak hanya tidak akan mampu menyelesaikan sebagian besar karya utamanya, tetapi juga mungkin menyerah pada kelaparan dan kekurangan gizi.

Marx menulis dan belajar secara terus-menerus, tetapi kesehatan yang buruk mencegahnya menyelesaikan dua jilid terakhir Capital (yang kemudian dikumpulkan oleh Engels dari catatan Marx). Istri Marx meninggal pada 2 Desember 1881, dan pada 14 Maret 1883, Marx meninggal dengan tenang di kursinya. Dia dikuburkan di sebelah istrinya di Highgate Cemetery, London.

Pandangan Marx tentang Agama

Menurut Marx, agama hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan sistem sosial lain dan struktur ekonomi masyarakat. Faktanya, agama hanya bergantung pada ekonomi, tidak ada yang lain—sehingga doktrin agama yang sebenarnya hampir tidaklah relevan. Ini adalah interpretasi fungsionalis agama: pemahaman agama bergantung pada apa tujuan sosial dari agama itu sendiri (sebagai sesuatu yang melayani), bukan bergantung pada isi dari keyakinan agama yang memang irasional.

Marx berpendapat bahwa agama adalah ilusi yang memberikan alasan dan dalih untuk menjaga agar masyarakat berfungsi sebagaimana adanya. Sama seperti kapitalisme yang merampas kerja-kerja produktif kita dan mengalienasi kita dari nilai-nilainya, agama mengambil cita-cita dan aspirasi tertinggi kita dan mengasingkan kita darinya, memproyeksikannya ke makhluk asing dan tidak dapat diketahui yang disebut tuhan.

Marx memiliki tiga alasan untuk tidak menyukai agama:

Pertama, nonsens—agama adalah delusi dan pemujaan terhadap penampilan yang menghindari pengenalan realitas yang mendasarinya.

Kedua, agama menegasikan semua yang bermartabat dalam diri manusia dengan menjadikan manusia budak dan lebih bisa menerima status quo. Di dalam kata pengantar disertasi doktoralnya, Marx mengadopsi kata-kata dari pahlawan Yunani, Prometheus, yang menantang para dewa-dewi untuk membawa api bagi umat manusia: "aku benci semua dewa-dewi," dengan tambahan bahwa mereka "tidak mengakui kesadaran manusia sebagai keilahian tertinggi."

Ketiga, agama itu hipokrit (munafik). Meskipun mungkin menganut prinsip-prinsip yang berharga, agama berpihak kepada para penindas. Yesus menganjurkan membantu orang miskin, tetapi gereja Kristen bergabung dengan negara Romawi yang menindas, turut ambil bagian dalam perbudakan selama berabad-abad. Pada Abad Pertengahan, Gereja Katolik berkhotbah tentang surga, tetapi merampas properti dan kekuasaan sebanyak mungkin.

Martin Luther berkhotbah tentang kemampuan setiap individu untuk menafsirkan Alkitab, tetapi berpihak kepada penguasa aristokrat dan melawan petani yang berjuang memerangi penindasan sosio-ekonomi. Menurut Marx, bentuk baru Kekristenan ini, Protestantisme, adalah produksi kekuatan ekonomi baru ketika kapitalisme awal berkembang. Realitas ekonomi baru membutuhkan suprastruktur agama baru yang dapat dibenarkan dan dipertahankan.

Jantung dari Dunia yang Kejam

Pernyataan Marx yang paling terkenal tentang agama berasal dari kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel:

Kesengsaraan agama pada saat yang sama merupakan ekspresi sekaligus protes dari kesengsaraan yang nyata. Agama adalah desahan makhluk yang tertindas, jantung dari dunia yang kejam, sebagaimana ia adalah spirit dari situasi tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat.

•Penghapusan agama sebagai kebahagiaan semu masyarakat diperlukan untuk kebahagiaan sejati mereka. Permintaan untuk melepaskan ilusi tentang kondisinya adalah permintaan untuk menyerahkan kondisi yang membutuhkan ilusi.

Ini sering disalahpahami, mungkin karena bagian lengkapnya jarang digunakan: huruf tebal di atas menunjukkan apa yang biasanya dikutip. Huruf miring adalah teks di dalam bentuk aslinya. Dalam beberapa hal, kutipan tersebut disajikan secara tidak jujur ​​karena mengatakan “Agama adalah desahan makhluk yang tertindas …” mengesampingkan bahwa itu juga merupakan “jantung dunia yang kejam.” Teks ini lebih merupakan kritik terhadap masyarakat yang sudah terlampau kejam dan bahkan merupakan pengesahan parsial terhadap agama yang berusaha menjadi jantungnya. Terlepas dari ketidaksukaannya dan kemarahannya terhadap agama, Marx tidak menjadikan agama sebagai musuh utama para pekerja dan para komunis. Seandainya Marx menganggap agama sebagai musuh yang lebih serius, dia akan mencurahkan lebih banyak waktu untuk menulis tentang itu.

Marx mengatakan bahwa agama dimaksudkan untuk menciptakan fantasi palsu bagi orang miskin. Realitas ekonomi menghalangi mereka untuk menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup ini, maka agama memberi tahu orang miskin bahwa semua baik-baik saja karena mereka akan menemukan kebahagiaan sejati di akhirat nanti (kehidupan selanjutnya). Bukan berarti Marx tidak prihatin: orang-orang dalam kesusahan dan agama memang memberikan penghiburan, seperti halnya orang-orang yang terluka secara fisik menerima bantuan dari obat-obatan berbasis zat opiat.

Masalahnya adalah zat opiat gagal memperbaiki cedera fisik—orang miskin hanya melupakan rasa sakit dan penderitaannya itu untuk sementara waktu. Akan tetapi, jauh lebih baik jika mereka juga mencoba mengatasi penyebab rasa sakit yang mendasarinya. Demikian pula, agama tidak mengatasi penyebab yang mendasari rasa sakit dan penderitaan orang-orang—sebaliknya, agama membantu mereka melupakan mengapa mereka menderita dan menyebabkan mereka menantikan masa depan imajiner ketika rasa sakit itu berhenti—ketimbang berusaha mengubah keadaannya secepat mungkin. Lebih buruk lagi, “obat” ini dipegang oleh para penindas yang bertanggung jawab atas rasa sakit dan penderitaan mereka.

Kendala Analisis Agama Marx

Marx tidak menghabiskan banyak waktu untuk melihat agama secara umum; sebaliknya, ia berfokus pada agama yang paling ia kenal, Kristen. Pandangannya berlaku untuk agama-agama lain dengan doktrin serupa tentang tuhan yang mahakuasa dan kehidupan setelah kematian yang mahabahagia, yang tidak berlaku untuk agama yang berbeda secara radikal. Di Yunani kuno dan Roma, misalnya, kehidupan setelah kematian yang mahabahagia disediakan untuk para pahlawan sementara orang-orang biasa hanya bisa berharap dan menantikan bayangan dari keberadaan duniawi mereka menjadi lebih baik. Mungkin dia dipengaruhi, dalam hal ini oleh Hegel, yang berpikir bahwa Kekristenan adalah bentuk agama tertinggi dan bahwa apa pun yang dikatakan tentang itu juga secara otomatis berlaku untuk agama-agama “lebih rendah”—itu keliru.

Masalah kedua adalah klaimnya bahwa agama sepenuhnya ditentukan oleh realitas material dan ekonomi. Tidak hanya tidak ada hal lain yang cukup fundamental untuk memengaruhi agama, tetapi pengaruh tidak dapat berjalan ke arah lain, dari agama ke realitas material dan ekonomi. Ini tidak benar. Jika Marx benar, maka kapitalisme akan muncul di negara-negara sebelum Protestantisme karena Protestantisme adalah sistem agama yang diciptakan oleh kapitalisme—tetapi kita tidak menemukan ini. Reformasi Protestan hadir di Jerman pada abad ke-16 masihlah bersifat feodal;  kapitalisme yang sesungguhnya tidak muncul sampai abad ke-19. Hal ini menyebabkan Max Weber berteori bahwa institusi keagamaan pada akhirnya menciptakan realitas ekonomi baru. Bahkan jika Weber salah, kita melihat bahwa seseorang dapat membantah kebalikan dari Marx dengan bukti sejarah yang jelas.

Masalah terakhir lebih bersifat ekonomi daripada agama—tetapi karena Marx menjadikan ekonomi sebagai dasar bagi semua kritiknya terhadap masyarakat, masalah apa pun dengan analisis ekonominya akan memengaruhi gagasannya yang lain. Marx menempatkan penekanannya pada konsep nilai, yang hanya dapat diciptakan oleh kerja-kerja manusia, bukan mesin. Hal ini memiliki 2 kekurangan.

 

Cacat dalam Menempatkan dan Mengukur Nilai

Pertama, jika Marx benar, maka industri padat karya akan menghasilkan lebih banyak nilai lebih (dan karenanya lebih banyak keuntungan) daripada industri yang kurang mengandalkan tenaga kerja manusia dan lebih banyak mengandalkan mesin. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Paling-paling, pengembalian investasi adalah sama—apakah pekerjaan itu dilakukan oleh manusia atau mesin. Cukup sering, mesin memungkinkan lebih banyak keuntungan daripada manusia.

Kedua, pengalaman umum bahwa nilai suatu objek yang diproduksi tidak terletak pada kerja-kerja yang dimasukkan ke dalamnya, tetapi pada estimasi subjektif dari calon pembeli. Secara teori, seorang pekerja dapat mengambil sepotong kayu mentah yang indah dan, setelah berjam-jam, menghasilkan patung yang sangat jelek. Jika Marx benar bahwa semua nilai berasal dari kerja, maka pahatan seharusnya memiliki nilai lebih dari kayu mentah. Objek hanya memiliki nilai dari apa pun yang akhirnya bersedia dibayar oleh seorang pembeli; beberapa mungkin membayar lebih untuk kayu mentah, beberapa mungkin membayar lebih untuk sebuah patung yang jelek.

Teori nilai kerja Marx dan konsep nilai lebih sebagai penggerak eksploitasi dalam kapitalisme adalah fondasi fundamental yang menjadi dasar semua idenya. Tanpa itu, keluhan moralnya terhadap kapitalisme akan rumpang, dan sisa-sisa filsafatnya akan runtuh. Dengan demikian, analisisnya tentang agama menjadi sulit untuk dipertahankan atau diterapkan, setidaknya dalam bentuk sederhana yang ia gambarkan.

Kaum Marxis telah mencoba dengan gagah berani untuk menolak kritik tersebut atau merevisi ide-ide Marx untuk membuat mereka kebal terhadap masalah yang dijelaskan di atas, tetapi mereka belum sepenuhnya berhasil (walaupun mereka tentu saja tidak setuju—jika tidak, mereka tidak akan tetap menjadi Marxis).

Melihat-Melampaui Kecacatan Marx

Untungnya, kita tidak sepenuhnya terbatas pada formulasi sederhana Marx. Kita tidak perlu membatasi diri pada gagasan bahwa agama hanya bergantung pada ekonomi dan tidak ada yang lain, bahwa doktrin agama yang sebenarnya hampir tidak relevan. Sebaliknya, kita dapat mengenali bahwa ada berbagai pengaruh sosial terhadap agama, termasuk realitas ekonomi dan material masyarakat. Dengan cara yang sama, agama dapat, pada gilirannya, memiliki pengaruh pada sistem ekonomi masyarakat.

Apa pun kesimpulan seseorang tentang keakuratan atau validitas ide-ide Marx tentang agama, kita harus mengakui bahwa ia memberikan jasa yang tak ternilai dengan memaksa orang-orang untuk melihat jaringan sosial di mana agama selalu ada. Dengan adanya pemikiran Marx, adalah tidak mungkin untuk mempelajari agama tanpa juga mengeksplorasi hubungannya dengan berbagai kekuatan sosial dan ekonomi. Kehidupan spiritual manusia tidak dapat lagi dianggap lepas dari kehidupan materialnya.

Pandangan Linier Sejarah

Bagi Karl Marx, faktor penentu dasar sejarah manusia adalah ekonomi. Menurutnya, manusia—bahkan sejak awal mulanya—tidak dimotivasi oleh gagasan-gagasan besar, melainkan oleh kepentingan materi, seperti kebutuhan untuk makan dan bertahan hidup. Ini adalah premis dasar dari pandangan materialis tentang sejarah. Pada awalnya, orang-orang bekerja bersama dalam satu kesatuan.

Namun akhirnya, manusia menemukan-mengembangkan agrikultur dan konsep kepemilikan pribadi. Kedua fakta ini menciptakan pembagian kerja dan pemisahan kelas berdasarkan kekuasaan dan kekayaan. Hal ini, pada gilirannya, menciptakan konflik sosial di tengah-tengah masyarakat.

Semua ini diperburuk oleh kapitalisme yang hanya meningkatkan kesenjangan antara kelas pemodal yang borjuis dan kelas buruh yang proletar. Konfrontasi di antara mereka tidak dapat dihindari karena kelas-kelas itu didorong oleh kekuatan sejarah di luar kendali siapa pun. Kapitalisme juga menciptakan satu kesengsaraan baru: eksploitasi nilai lebih.

Kapitalisme dan Eksploitasi

Bagi Marx, sistem ekonomi yang ideal akan melibatkan pertukaran nilai yang setara untuk nilai yang sama, di mana nilai ditentukan hanya oleh jumlah pekerjaan yang dimasukkan ke dalam apa pun yang sedang diproduksi. Kapitalisme menginterupsi cita-cita ini dengan memperkenalkan motif keuntungan—keinginan untuk menghasilkan pertukaran yang tidak merata dari nilai yang lebih rendah untuk nilai yang lebih besar. Laba pada akhirnya diperoleh dari akumulasi nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja di pabrik-pabrik.

Seorang buruh mungkin menghasilkan nilai yang cukup untuk memberi makan keluarganya dalam 2 jam kerja, tetapi dia tetap bekerja selama sehari penuh—dalam waktu Marx, itu mungkin 12 atau 14 jam. Jam-jam ekstra tersebut mewakili nilai lebih yang dihasilkan oleh pekerja. Pemilik pabrik bahkan tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan nilai lebih ini, tetapi tetap mengeksploitasi para pekerjanya dan menyimpan selisihnya sebagai keuntungan.

Dalam konteks ini, Komunisme dengan demikian memiliki 2 tujuan: Pertama, ia diharapkan untuk menjelaskan realitas-realitas ini kepada orang-orang yang tidak menyadarinya; kedua, ia seharusnya memanggil orang-orang di kelas buruh untuk bersiap menghadapi konfrontasi dan revolusi. Penekanan pada praksis ketimbang sekadar renungan filosofis ini adalah poin penting Marx. Seperti yang dia tulis dalam Tesisnya yang terkenal tentang Feuerbach: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia, dalam berbagai cara; intinya, bagaimanapun, adalah bagaimana mengubahnya.”

Masyarakat

Dengan demikian, ekonomi merupakan dasar dari semua kehidupan dan sejarah manusia—menghasilkan pembagian kerja, perjuangan kelas, dan semua institusi sosial yang seharusnya mempertahankan status quo. Institusi-institusi sosial itu adalah suprastruktur yang dibangun di atas dasar ekonomi, sepenuhnya bergantung pada realitas material dan ekonomi, tidak ada yang lain.

Marx memiliki kata khusus untuk semua pekerjaan yang dilakukan untuk mengembangkan institusi-institusi tersebut: ideologi. Orang-orang yang bekerja dalam sistem itu—mengembangkan seni, teologi, filsafat, dll.—membayangkan bahwa ide-ide itu berasal dari keinginan untuk mencapai kebenaran atau keindahan, tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pada kenyataannya, hal-hal tersebut adalah ekspresi kepentingan kelas dan konflik kelas. Mereka adalah cerminan dari kebutuhan mendasar untuk mempertahankan status quo dan melestarikan realitas ekonomi saat ini. Ini tidak mengejutkan—sebab mereka yang berkuasa selalu ingin membenarkan dan mempertahankan kekuatan-kekuatan itu.

*****

Artikel ditulis oleh Austin Cline dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mochammad Aldy Maulana Adha.

Sumber Literatur:

Religion as Opium of the People (Karl Marx) – Learn Religions

Comments