Agama adalah Candu Masyarakat

Human in Economics and The Dogma of Materialism (Manusia dalam Ekonomi dan Dogma Materialisme)

 


Manusia dapat menemukan makna eksistensinya dengan melakukan berbagai macam aktivitas yang mendukung kehidupannya. Keterlibatan manusia dengan lingkungan sekitarnya hingga pada titik tertentu menjadi pelaku utama suatu kejadian di lingkungan sekitar. Ekonomi adalah salah satu kegiatan yang terjadi dan menjadi dasar kehidupan yang sudah tidak dapat kita hindari lagi, pembentukan ekonomi dalam skala mikro dan makro tidak terlepas dari faktor-faktor produksi yang saling berkaitan hingga pada titik tertentu dapat membentuk komoditi yang memberikan hasil berupa nilai lebih bagi entitas.

Pencarian makna di dalam ekonomi terkadang menghasilkan suatu dogma yang keliru sehingga manusia tidak dapat memaksimalkan perannya sebagai pelaku ekonomi. Namun, cenderung menjadi objek eksploitasi ekonomi hingga menjadi pelaku yang melakukan konsumsi berlebih. Apabila kita ingin menemukan makna dari ekonomi, maka kita harus mengkaji secara umum materialisme. Perekonomian identik dengan pandangan materialis yang melihat hanya pada sesuatu yang bersifat rill dan dapat dibuktikan dengan data serta pancaindra manusia.

Fordisme-Konsumerisme situasi yang melahirkannya memiliki dua aspek: pertama, keperluan untuk merekonstruksi Eropa pasca-perang dan, kedua, banyaknya jumlah pabrik di AS yang dibangun untuk produksi persenjataan selama perang (Martin Suryajaya, 2018).

Dengan memperhatikan kondisi-kondisi yang memicu adanya perubahan keadaan ekonomi secara global hingga pada titik tertentu kemajuan tekonologi yang mendukung kemajuan ekonomi juga memberikan pengaruh pada pemaknaan manusia di dalam ekonomia itu sendiri, perlu diperhatikan adanya materialisme tersebut memicu fordisme-konsumerisme manusia hingga membuat pemaknaan tidak terbentuk secara baik. Pemaknaan ekonomi harus memikirkan faktor-faktor esensial kehidupan yang dapat memperbaiki kehidupan manusia dan bukan untuk menjebak manusia ke dalam distrosi makna ekonomi. Distorsi yang terjadi menempatkan manusia pada posisi yang tidak semestinya terjadi, pelaku ekonomi harus mampu menciptakan keadaan ekonomi yang mendukung pemenuhan kebutuhan manusia secara fundamental dan bukan berpatokan kepada materialisme semata agar memaksakan manusia untuk menerima semua komoditi yang tidak diperlukannya.

Permintaan akan komoditas secara massif tidak menjadi ukuran akan kemakmuran masyarakat. Tingkat kemakmuran dari masyarakat dapat diukur melalui keterbukaan pemikiran manusia untuk berperan secara utuh dalam perekonomian, dogma materialisme tidak sepenuhnya dapat digunakan untuk mengukur keberlangsungan ekonomi sehingga analisis yang dilakukan secara materialis akan menemukan kecacatan apabila tidak mempertimbangkan faktor pemaknaan yang keliru dalam masyarakat. Materialisme menjadi penting ketika manusia sudah mempertimbangan faktor non-material dari ekonomi dan peranan manusia di dalamnya.

Materialisme akan menemukan kecacatannya dalam berbagai upaya entitas untuk memaksakan komoditi yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, sehingga akan menimbulkan kelebihan komoditi untuk diedarkan. Pemenuhan kebutuhan sudah sesuai dengan prinsip pembentukan masyarakat apabila kita tidak menjadi objek eksploitasi dari sistem ekonomi. Selama kita masih menjadi objek eksploitasi ekonomi, maka kita akan terus terjebak dalam konsumerisme agar akumulasi dari modal yang dikeluarkan oleh entitas ekonomi dapat memberikan manfaat sepihak dan tidak memperhitungkan manfaat yang diterima oleh masyarakat secara luas. Dengan demikian kita perlu mengkaji ulang dogma materialisme yang begitu erat dengan ekonomi sehingga manusia sulit untuk menemukan makna kehadirannya sebagai bagian dari masyarakat yang ikut serta mendorong kemajuan ekonomi.

Comments